Sabtu, 01 Januari 2011

SASTRA DAN TRADISI



PUISI TOROK 
 SEBUAH TRADISI MASYARAKAT MANGGARAI FLORES-NTT

Sastra lisan merupakan bagian dari kebudayaan yang telah hidup dan berkembang dalam masyarakat sejak dahulu kala sampai sekarang. Sastra lisan penting untuk diperhatikan yaitu agar dapat diselamatkan dari pengaruh pergeseran akibat kemajuan teknologi zaman ini. Jenis-jenis sastra lisan yaitu prosa lisan seperti cerita rakyat (folklore) bersifat dongeng seperti mitos; legenda; fable; dan balada, puisi lisan berupa nyanyian; pribahasa;  syair-syair doa; dan mantra, dan drama lisan.
Masyarakat Manggarai selain mengenal prosa lisan seperti Ata Buta agu Ata Peko (Si Buta dan Si Lumpuh); Si Lanur dan Timung Te’e; dan Tombo Ema Agu Anak (Cerita Bapak dan Anaknya) juga mengenal puisi lisan  berupa syair-syair  doa (torok).
Torok merupakan puisi lisan yang melukiskan tradisi kolektif tertentu dari salah satu tradisi yang ada di Manggarai dan merupakan sebuah warisan leluhur yang sering digunakan dalam  upacara adat, agama, dan  pemerintahan. Torok adalah ungkapan doa dan harapan Masyarakat untuk kesejahteraan dan sebagai aturan pola bertingkah laku dalam bermasyarakat
Puisi torok disampaikan dalam bentuk ucapan yang lantang oleh ata torok (penyeru) pada saat pelaksanaan upacara adat seperti permohonan atau harapan untuk kedamaian masyarakat, upacara agama seperti ucapan syukur kepada Mori kraeng (Tuhan) atas rahmat dan berkat yang diterima oleh masyarakat, dan upacara pemerintahan biasanya ucapan terima kasih kepada pemerintah yang telah menyempatkan diri hadir dalam acara pemerintahan. 
Struktur torok berbentuk bebas yaitu dalam bentuk bertutur oleh ata torok  (penyeru), tidak terikat pada baris dan persajakan. Namun, torok memiliki irama dan rima sesuai dengan jeda pengucapan pada saat disampaikan oleh ata torok  (penyeru) dalam bentuk bertutur nyaring. Dengan demikian, torok berstruktur puisi naratif lisan.
Masyarakat tradisional  Manggarai tidak hanya hidup dalam konteks adat saja, tetapi juga terikat dalam kehidupan keagamaan dan sistem pemerintahan Kabupaten Manggarai. Puisi torok digolongkan ke dalam tiga upacara besar di Manggarai yaitu dalam upacara adat seperti torok cear cumpe (doa pemberian nama anak); torok libur kilo penti weki peso beo (doa syukuran Tahun baru untuk sekeluarga dan sekampung); torok we’e mbaru (doa pemberkatan rumah baru), dalam upacara agama seperti torok pemberkatan Gereja; tahbisan imam baru; perarakan patung Bunda Maria dan Sakramen Mahakudus; serta berbagai acara Gereja lainnya, dan dalam upacara pemerintah seperti pelantikan Bupati; kunjungan para pembesar pemerintah; pembangunan gedung utama; pesta kenegaraan seperti Hari Proklamasi 17 Agustus dan lain-lain.
Teuuw dalam bukunya Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan menyatakan bahwa ada hubungan langsung antara kelisanan dalam kebudayaan tradisional dengan rasa kolektifitasnya. Dalam masyarakat semacam ini tukang cerita memiliki peran yang mahapenting sebab dalam cerita yang ia pentaskan tersimpan informasi dan sistem nilai yang relevan untuk masyarakat bersangkutan. Seperti yang diungkapkan oleh Teuuw tentang hubungan antara kelisanan dan rasa kolektif tersebut maka dalam penuturan puisi torok, ata torok memiliki peran yang sangat penting yaitu sebagai perantara masyarakat (audiens) dengan Mori (Tuhan) dan Empo (para leluhur) dalam mengungkapkan sejumlah harapan dan doa untuk kesejahteraan baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat.
Makna puisi torok yaitu memancarkan seperangkat norma dan nilai sosial budaya yang dianut kelompok tutur Manggarai dalam menghadapi realitas kehidupannya. Torok merupakan salah satu bentuk puisi yang unik karena memiliki fungsi khusus yaitu untuk menyampaikan pesan dan amanat bagi masyarakat pendengar umumnya.
          Kenali dan lestarikan tradisi Manggarai sebagai penunjuk jati diri yang dapat mengungkapkan berbagai nilai keindahan, kemanusiaan, moral, adat, dan pendidikan sehingga mampu dipertahankan dari gilasan roda zaman.

oleh: 
Elsye Guntar

Elsye Guntar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Recent Comments

Sabtu, 01 Januari 2011

SASTRA DAN TRADISI



PUISI TOROK 
 SEBUAH TRADISI MASYARAKAT MANGGARAI FLORES-NTT

Sastra lisan merupakan bagian dari kebudayaan yang telah hidup dan berkembang dalam masyarakat sejak dahulu kala sampai sekarang. Sastra lisan penting untuk diperhatikan yaitu agar dapat diselamatkan dari pengaruh pergeseran akibat kemajuan teknologi zaman ini. Jenis-jenis sastra lisan yaitu prosa lisan seperti cerita rakyat (folklore) bersifat dongeng seperti mitos; legenda; fable; dan balada, puisi lisan berupa nyanyian; pribahasa;  syair-syair doa; dan mantra, dan drama lisan.
Masyarakat Manggarai selain mengenal prosa lisan seperti Ata Buta agu Ata Peko (Si Buta dan Si Lumpuh); Si Lanur dan Timung Te’e; dan Tombo Ema Agu Anak (Cerita Bapak dan Anaknya) juga mengenal puisi lisan  berupa syair-syair  doa (torok).
Torok merupakan puisi lisan yang melukiskan tradisi kolektif tertentu dari salah satu tradisi yang ada di Manggarai dan merupakan sebuah warisan leluhur yang sering digunakan dalam  upacara adat, agama, dan  pemerintahan. Torok adalah ungkapan doa dan harapan Masyarakat untuk kesejahteraan dan sebagai aturan pola bertingkah laku dalam bermasyarakat
Puisi torok disampaikan dalam bentuk ucapan yang lantang oleh ata torok (penyeru) pada saat pelaksanaan upacara adat seperti permohonan atau harapan untuk kedamaian masyarakat, upacara agama seperti ucapan syukur kepada Mori kraeng (Tuhan) atas rahmat dan berkat yang diterima oleh masyarakat, dan upacara pemerintahan biasanya ucapan terima kasih kepada pemerintah yang telah menyempatkan diri hadir dalam acara pemerintahan. 
Struktur torok berbentuk bebas yaitu dalam bentuk bertutur oleh ata torok  (penyeru), tidak terikat pada baris dan persajakan. Namun, torok memiliki irama dan rima sesuai dengan jeda pengucapan pada saat disampaikan oleh ata torok  (penyeru) dalam bentuk bertutur nyaring. Dengan demikian, torok berstruktur puisi naratif lisan.
Masyarakat tradisional  Manggarai tidak hanya hidup dalam konteks adat saja, tetapi juga terikat dalam kehidupan keagamaan dan sistem pemerintahan Kabupaten Manggarai. Puisi torok digolongkan ke dalam tiga upacara besar di Manggarai yaitu dalam upacara adat seperti torok cear cumpe (doa pemberian nama anak); torok libur kilo penti weki peso beo (doa syukuran Tahun baru untuk sekeluarga dan sekampung); torok we’e mbaru (doa pemberkatan rumah baru), dalam upacara agama seperti torok pemberkatan Gereja; tahbisan imam baru; perarakan patung Bunda Maria dan Sakramen Mahakudus; serta berbagai acara Gereja lainnya, dan dalam upacara pemerintah seperti pelantikan Bupati; kunjungan para pembesar pemerintah; pembangunan gedung utama; pesta kenegaraan seperti Hari Proklamasi 17 Agustus dan lain-lain.
Teuuw dalam bukunya Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan menyatakan bahwa ada hubungan langsung antara kelisanan dalam kebudayaan tradisional dengan rasa kolektifitasnya. Dalam masyarakat semacam ini tukang cerita memiliki peran yang mahapenting sebab dalam cerita yang ia pentaskan tersimpan informasi dan sistem nilai yang relevan untuk masyarakat bersangkutan. Seperti yang diungkapkan oleh Teuuw tentang hubungan antara kelisanan dan rasa kolektif tersebut maka dalam penuturan puisi torok, ata torok memiliki peran yang sangat penting yaitu sebagai perantara masyarakat (audiens) dengan Mori (Tuhan) dan Empo (para leluhur) dalam mengungkapkan sejumlah harapan dan doa untuk kesejahteraan baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat.
Makna puisi torok yaitu memancarkan seperangkat norma dan nilai sosial budaya yang dianut kelompok tutur Manggarai dalam menghadapi realitas kehidupannya. Torok merupakan salah satu bentuk puisi yang unik karena memiliki fungsi khusus yaitu untuk menyampaikan pesan dan amanat bagi masyarakat pendengar umumnya.
          Kenali dan lestarikan tradisi Manggarai sebagai penunjuk jati diri yang dapat mengungkapkan berbagai nilai keindahan, kemanusiaan, moral, adat, dan pendidikan sehingga mampu dipertahankan dari gilasan roda zaman.

oleh: 
Elsye Guntar

Elsye Guntar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar