Sabtu, 01 Januari 2011

Puisi "Selimut Hati"

Selimut Hati

Kuingin  malam ini menjadi malam terakhir
Aku merindukanmu

Esok fajar membuka hati                                               
Walau  berselimutkan masa lalu
Namun kumelipatnya menjadi rapi
Agar kembali indah saat dikenang

Mata hati yang selalu kujaga
Serasa baru kemarin dia ukir cinta di mata hati ini
Namun kabut membutakan mata hati
Untuk memilih tetap berselimutkan masa lalu

Dan
Ternyata  malam ini
Masih seperti malam sebelumnya
Aku  merindukanmu…..

Oleh: Ellshita Lisnawati Guntar


SASTRA DAN TRADISI



PUISI TOROK 
 SEBUAH TRADISI MASYARAKAT MANGGARAI FLORES-NTT

Sastra lisan merupakan bagian dari kebudayaan yang telah hidup dan berkembang dalam masyarakat sejak dahulu kala sampai sekarang. Sastra lisan penting untuk diperhatikan yaitu agar dapat diselamatkan dari pengaruh pergeseran akibat kemajuan teknologi zaman ini. Jenis-jenis sastra lisan yaitu prosa lisan seperti cerita rakyat (folklore) bersifat dongeng seperti mitos; legenda; fable; dan balada, puisi lisan berupa nyanyian; pribahasa;  syair-syair doa; dan mantra, dan drama lisan.
Masyarakat Manggarai selain mengenal prosa lisan seperti Ata Buta agu Ata Peko (Si Buta dan Si Lumpuh); Si Lanur dan Timung Te’e; dan Tombo Ema Agu Anak (Cerita Bapak dan Anaknya) juga mengenal puisi lisan  berupa syair-syair  doa (torok).
Torok merupakan puisi lisan yang melukiskan tradisi kolektif tertentu dari salah satu tradisi yang ada di Manggarai dan merupakan sebuah warisan leluhur yang sering digunakan dalam  upacara adat, agama, dan  pemerintahan. Torok adalah ungkapan doa dan harapan Masyarakat untuk kesejahteraan dan sebagai aturan pola bertingkah laku dalam bermasyarakat
Puisi torok disampaikan dalam bentuk ucapan yang lantang oleh ata torok (penyeru) pada saat pelaksanaan upacara adat seperti permohonan atau harapan untuk kedamaian masyarakat, upacara agama seperti ucapan syukur kepada Mori kraeng (Tuhan) atas rahmat dan berkat yang diterima oleh masyarakat, dan upacara pemerintahan biasanya ucapan terima kasih kepada pemerintah yang telah menyempatkan diri hadir dalam acara pemerintahan. 
Struktur torok berbentuk bebas yaitu dalam bentuk bertutur oleh ata torok  (penyeru), tidak terikat pada baris dan persajakan. Namun, torok memiliki irama dan rima sesuai dengan jeda pengucapan pada saat disampaikan oleh ata torok  (penyeru) dalam bentuk bertutur nyaring. Dengan demikian, torok berstruktur puisi naratif lisan.
Masyarakat tradisional  Manggarai tidak hanya hidup dalam konteks adat saja, tetapi juga terikat dalam kehidupan keagamaan dan sistem pemerintahan Kabupaten Manggarai. Puisi torok digolongkan ke dalam tiga upacara besar di Manggarai yaitu dalam upacara adat seperti torok cear cumpe (doa pemberian nama anak); torok libur kilo penti weki peso beo (doa syukuran Tahun baru untuk sekeluarga dan sekampung); torok we’e mbaru (doa pemberkatan rumah baru), dalam upacara agama seperti torok pemberkatan Gereja; tahbisan imam baru; perarakan patung Bunda Maria dan Sakramen Mahakudus; serta berbagai acara Gereja lainnya, dan dalam upacara pemerintah seperti pelantikan Bupati; kunjungan para pembesar pemerintah; pembangunan gedung utama; pesta kenegaraan seperti Hari Proklamasi 17 Agustus dan lain-lain.
Teuuw dalam bukunya Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan menyatakan bahwa ada hubungan langsung antara kelisanan dalam kebudayaan tradisional dengan rasa kolektifitasnya. Dalam masyarakat semacam ini tukang cerita memiliki peran yang mahapenting sebab dalam cerita yang ia pentaskan tersimpan informasi dan sistem nilai yang relevan untuk masyarakat bersangkutan. Seperti yang diungkapkan oleh Teuuw tentang hubungan antara kelisanan dan rasa kolektif tersebut maka dalam penuturan puisi torok, ata torok memiliki peran yang sangat penting yaitu sebagai perantara masyarakat (audiens) dengan Mori (Tuhan) dan Empo (para leluhur) dalam mengungkapkan sejumlah harapan dan doa untuk kesejahteraan baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat.
Makna puisi torok yaitu memancarkan seperangkat norma dan nilai sosial budaya yang dianut kelompok tutur Manggarai dalam menghadapi realitas kehidupannya. Torok merupakan salah satu bentuk puisi yang unik karena memiliki fungsi khusus yaitu untuk menyampaikan pesan dan amanat bagi masyarakat pendengar umumnya.
          Kenali dan lestarikan tradisi Manggarai sebagai penunjuk jati diri yang dapat mengungkapkan berbagai nilai keindahan, kemanusiaan, moral, adat, dan pendidikan sehingga mampu dipertahankan dari gilasan roda zaman.

oleh: 
Elsye Guntar

Elsye Guntar

Senin, 27 Desember 2010

Hari Ini, Pilkada Jembrana



Negara, Jembrana - Coblosan Pilkada Jembrana yang digelar serentak hari ini di semua TPS tersebar di Kabupaten Jembrana, Senin (27/12) mendapat perhatian khusus dari KPU pusat. Secara khusus Ketua KPU, Hafidz Anshari bersama anggotanya, IGP Artha terjun ke Jembrana. Bahkan mereka berdua sejak tadi malam sudah berada di ‘Bumi Makepung’. Bukan hanya mereka berdua, jajaran KPU Bali juga ikut terjun ke Jembrana hari ini. Bahkan, jajaran KPU kabupaten/kota se-Bali tidak ketinggalan ikut terjun. Kedatangan mereka guna melakukan pemantauan di pilkada yang belakangan tensinya memanas ini. 

Hafidz didampingi Anggota KPU Bali, Dewa Raka sandi, Ketua KPU Jembrana, Putu Wahyu Dhiantara saat ditemui awak media di Hotel Jimbarwana, Minggu (26/12) sore mengatakan, kedatangan pihaknya guna melakukan pengecekan pelaksanaan pilkada. Tujuanya guna mengetahui apakah pelaksanaannya sesuai aturan atau tidak. “Kita juga ingin memantau apakah ada kendala yang dihadapi petugas KPU,” terangnya. 

Dengan memantau langsung coblosan pilkada hari ini juga guna mengetahui apakah Kesbang Linmas sudah berperan cukup baik atau tidak. Pola pemantauan yang akan dilakukan pihaknya di TPS dengan cara acak. Hal ini guna mengetahui apakah di TPS tertentu digelar kesenian guna menarik perhatian masyarakat, khususnya pemilih untuk menyalurkan hak suaranya. “Karena di daerah lain ada TPS yang menyelenggarakan kesenian dan undian,” terangnya. Hafiz juga berharap Pilkada Jembrana berjalan aman, lancar, dan damai. Untuk itu Hafidz minta kepada petugas agar menghindari keberpihakan. Sedangkan terkait banyaknya laporan pelanggaran pilkada, itu merupakan kewenangan Panwaslu yang menanganinya. 

Dibagian lain menjelang H-1 coblosan, Minggu (26/12) masih ada masyarakat yang sudah memenuhi syarat seperti usia tidak mendapatkan surat panggilan untuk mencoblos. Selain itu juga pemilih yang TPS nya justru relatif jauh dari rumahnya. Padahal tidak jauh dari rumah pemilih ini ada sejumlah TPS. Bahkan ada juga bocah SD mendapat surat panggilan untuk mencoblos. Setidaknya semua persoalan ini terjadi di wilayah Kelurahan Loloan Timur. (dzar)

Hari Ini Pilkada Jembrana Ada Pembagian Amplop dan Beras

KPU JEMBRANA BALI


Negara (Bali Post) - Pada H-2 dan H-1 jelang waktu pencoblosan di sejumlah desa dibombardir amplop berisi uang dan beras yang diduga dilakukan tim sukses salah satu kandidat. Hingga Minggu (26/12) sore kemarin, Panwaslu Jembrana mendapatkan enam laporan dan di antaranya menjurus ke praktik money politics (politik uang).

Menurut informasi kasus pembagian amplop bergambar salah satu kandidat dan berisi uang Rp 100 ribu itu terjadi di Lingkungan Awen dan Lingkungan Ketapang, Kelurahan Lelateng.

Menurut informasi, amplop tersebut dibagikan oleh tim sukses kandidat tertentu dan di amplop itupun tertera gambar pasangan calon tersebut. Kebetulan salah seorang yang mendapat bagian adalah korlap salah satu pasangan dan langsung melaporkan ke Panwaslu.

Hal serupa juga terjadi di Dusun Tegalasih, Batuagung namun nilainya hanya Rp 10 ribu, pada Sabtu (25/12) malam telah dilaporkan ke Panwaslu. Sedangkan pembagian beras dengan embel-embel salah satu pasangan juga dilakukan di Dusun Air Anakan dan Desa Manistutu.

Ketua Panwaslu Jembrana I Wayan Wasa dikonfirmasi kemarin membenarkan adanya laporan praktik politik uang itu. Panwas telah menerima enam laporan yang dilaporkan Sabtu lalu di antaranya pembagian beras di Air Anakan di rumah klian dusun setempat, Hamzah. Kedua, pukul dua dinihari kemarin di Banjar Wali, Yehembang dan laporan penyebaran pamplet bernuansa SARA menyudutkan kandidat lain. Serta politik uang di Tegalasih, Batuagung yang dilaporkan oleh Wayan Sudarsana.

Salah satu warga, Surti, mengaku mendapat uang Rp 10 ribu dari tim sukses salah satu kandidat. Sementara laporan Minggu kemarin di antaranya pembagian amplop isi uang Rp 100 ribu di dua Lingkungan Kelurahan Lelateng serta pembagian beras di Manistutu. Beras terbungkus plastik transparan dengan logo partai Golkar. Ketua Panwas Wayan Wasa menandaskan Panwaslu masih memiliki waktu hingga 14 hari setelah laporan untuk menyikapi dugaan pelanggaran pilkada itu. Pihaknya masih melakukan proses klarifikasi terhadap saksi, terlapor dan pelapor untuk kesimpulan secara tuntas. ''Kita belum dapat simpulkan siapa di belakang ini apakah pasangan ini atau itu. Termasuk menyimpulkan ini money politics atau bukan yang jelas kita sikapi lakukan proses klarifikasi. Beberapa di antaranya belum kita klarifikasi karena dilaporkan malam,'' ujarnya.


SARA
Selain itu Panwaslu fokus tupoksi pengawasan yang lebih penting yakni pada pencoblosan hari ini. Masih ada 14 hari setelah dilaporkan untuk memeriksa. Kita fokus pada tupoksi pengawasan besok, tambahnya. Khusus terkait dengan selebaran SARA pihaknya meminta kepada masyarakat jangan sampai terprovokasi oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Tokoh agama hendaknya memberikan pencerahan umatnya masing-masing untuk bijaksana menyikapi masalah ini dan pilkada berjalan dengan baik. ''Anggap saja pamplet itu sampah yang tidak berguna. Masyarakat jangan terprovokasi ulah orang yang tidak bertanggung jawab,'' tegasnya. Sejumlah barang bukti di antaranya tiga karung beras, uang Rp 100 ribuan sebanyak Rp 2 juta dan Rp 10 ribuan dua lembar, amplop bergambar kandidat serta satu bungkus beras bergambar parpol Golkar diamankan di kantor Panwaslu. (kmb26)

Sumber : Bali Post

Minggu, 19 Desember 2010

Kebijakan Publik Yang Memberdayakan Anak Muda?

Ada banyak ragam dan jenis kebijakan yang kita sering dengar dan popular di telinga kita sebagai bangsa yang mendengar dan melupakan(amnesia) karena bukan bangsa yang gemar membaca sehingga sering kali berbeda apa yang disampaikan dengan apa yang dilaksanakan. Pemerintah pura-pura tidak ingat dan rakyat memang benar benar dalam keadaan lupa-lupa ingat. Artinya kebijakan pemerintah daerah atau pusat misalnya kebijakan pro rakyat, kebijakan pro-poor, ada gender budgeting, ada partisipatory budgeting yang kita mengenal semenjak reformasi mulai ditabuh tapi apa hendak dikata semua kebijakan dan rencana itu masih mengidap penyakit yang saya sebut “munafik policy” sebab terdapat kesenjangan yang luar biasa antara tulisan dan perbuatan, antara perkataan dan pelaksanaan. Tapi apa mau dikata pula, membincang kebijakan public adalah membincang diri kita dan tentang kita. Jika tidak kita yang membicarakan, merasani, dan mengkritik sampai kapan kita menjadi korban kebijakan? Menjadi obyek pelengkap penderita dari jargon-jargon kampanye calon bupati, gubernur, presiden yang menampakkan diri sebagai para pembela orang miskin dan tertindas.

Setelah mencoba membaca berbagai model kebijakan yang selama ini di berbagai daerah ternyata ada satu kesimpulan yang cukup menggelisahkan bahwa penulis benar-benar belum menemukan kebijakan publik yang mempunyai arah dan orientasi yang jelas bagaimana kebijakan dan program serta anggaran pemerintah dialokasikan untuk mempersiapkan calon pemimpin daerah, generasi yang akan datang untuk memperbaiki keadaan yang bernama ana-anak dan pemuda. Oleh karena itu penulis coba memberikan deskripsi bagaimana kebijakan pro-anak, pelajar, dan remaja didesain dan apa orientasi yang termaktub didalamnya. Hal ini penting sekali difikirkan, karena apa? Setidaknya ada lima hal penting mengapa kebijakan pro anak dan pemuda ini harus disiapkan semenjak dini.

Pertama, mereka (anak dan pemuda) adalah aset termahal, calon pemimpin daerah dan bahkan calon pemimpin bangsa. Jika tidak digodog sejak sekarang maka akan menjadi kader bangsa yang sekualitas dengan mie instan yang kata soekarno hanya bermental tempe atau kata Amien Rais hanya bermental inlander yang memandang diri, daerah, dan bangsanya lebih rendah dari bangsa lain. Mentalitas harus dibentuk, karakter kepemimpinan yang kuat bisa diciptakan dengan bekal kedisiplinan dan tentu dengan support dari pemerintah setempat yang merupakan sumber penganggaran. Sudah saatnya ada alokasi untuk melakukan empowering anak-anak dan pemuda terutama dari kalangan keluarga miskin yang seringkali sulit meraih pendidikan dan menaikkan taraf hidup keluarganya.

Kedua, mereka (anak dan pemuda) membutuhkan support yang besar. Jika kita ingin menghasilkan pemimpin pemuda yang handal tentu dengan kerja keras. Banyak pula potensi anak dan pemuda dari keluarga miskin yang perlu di upgrade agar kemampuan kepemimpinan lebih mantab, tidak minder dan percaya diri. Seandainya 10 persen anggaran pemerintah untuk mendirikan sekolah calon pemimpin di daerah untuk anak-anak muda baik yang miskin atau susah diberikan kesempatan untuk bermimpi menjadi pemimpin yang bernurani dan lebih memahami bagaimana memperjuangkan komunitasnya yang miskin dan termiskinkan tersebut. Inilah yang disebut dengan pemberdayaan dan penguatan kapasitas masyarakat melalui upaya meningkatkan skill kepemimpinan di kalangan anak muda. Selama ini betapa memprihatinkan bahwa anak-anak dan pemuda tidak pernah dilibatkan dalam membuat kebijakan publik baik di level pemerintah daerah, kecamatan, kelurahan dan RT atau RW. Anak muda dianggap bukanlah sesuatu yang penting di setiap lini kehidupan terlebih di daerah-daerah yang mengalami gerontokrasi, kepemimpinan orang tua yang tidak produktif dan tidak kreatif. Tapi pemuda tidak mampu berbuat banyak karena kelemahan di sana-sini, terutama masalah ekonomi keluarga yang tidak pernah hengkang dari garis kemiskinan.

Ketiga, Jika mereka (anak dan pemuda) kuat, maka daerah dan bangsa juga akan kuat. Memang ironisnya, seringkali anak muda tidak dianggap, diremehkan dan bahkan masa depannya dirampas oleh generasi tua yang merasa benar dan mau menang sendiri. Ini sangat berbahaya apabila terlambat disadari bahwa upaya memperkuat pemerintah terus dilakukan dengan anggaran yang besarnya selangit, upaya pemberantasan korupsi dan teroris begitu menggemparkan dunia ‘persilatan’. Tapi adakah upaya melatih anak dan pemuda menjadi manusia yang berkarakter, bermental kuat dan tidak inlander? Sangat sedikit sekali. Ibaratnya, bangsa ini membangun rumah, diperkuat atapnya sampai setebal dan seberat bumi tapi tanpa fondasi yang kuat sebab penulis berpendapat fondasi yang sebenarnya adalah anak-anak dan pemuda yang kini masa depannya “dikebiri” dan mimpinya terus saja dirampas. Penggundulan hutan, perusakan ekosistem, korupsi, dan pembangunan yang kapitalistik adalah menifestasi perampasan masa depan anak dan pemuda. Dan sekaligus ini memberikan kesimpulan yang kuat bahwa kebijakan pemerintah sangat pragmatis, tidak visioner, tidak memikirkan anak cucu yang akan datang.

Dzar Al Banna
Sastra Indonesia, Universitas Udayana

Akibat Hujan Semalam, Bedugul Longsor

Longsor menutupi sebagian jalan utama Denpasar - Singaraja


Tabanan – Kemarin (17/12) Hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Kota Denpasar begitu juga di Kabupaten Tabanan mengakibatkan longsor di obyek wisata Candi Kuning Bedugul, Kecamatan Baturiti, Sabtu siang (18/12).

Menurut informasi dari Kasatlantas Polres Tabanan AKP I Made Punia, Sekitar pukul 23.00 Wita terjadi longsor kecil di dekat Patung Jagung Bedugul. Akibat hujan deras sejak pagi hingga siang, ujar Punia, tebing di sekitar Patung Jagung tergerus sehingga mengakibatkan tanah-tanah di sekitarnya longsor dan menimbun sebagian badan jalan.

Longsoran tanah tebing itu sempat mengganggu arus lalu lintas di obyek wisata andalan di Kabupaten Tabanan tersebut sehingga menutup satu lajur jalan sebelah barat. Kendaraan roda dua dan empat yang hendak pergi ke arah Singaraja ataupun Denpasar berjalan tersendat karena dilakukannya akses buka tutup lajur. Namun aktivitas pariwisata di kawasan bedugul tetap berjalan seperti biasa, pengunjung pun diharap tetap berhati-hati saat melewati kawasan wisata bedugul ini, dikarenakan sepanjang jalur ini sangat rawan longsor.

Sabtu sore, tumpukan tanah longsor tersebut telah dibersihkan, atas kerja sama pihak kepolisian resor Tabanan, Dinas Pekerjaan Umum, dan warga sekitar dengan menggunakan alat seadanya. “Sebenarnya kami telah menunggu alat berat dari Denpasar, namun sampai pukul 14.30 Wita tak kunjung tiba, akhirnya kami lakukan dengan alat seadanya” ujar Punia.

Bedugul Oh Bedugul


Saatnya Mancing Mania
Tabanan - Akhir liburan Galungan dan Kuningan di Bali sungguh sangat menggembirakan. Setelah diawal liburan Galungan kemarin adik-adik saya di PD Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Denpasar mengadakan pelatihan kepemimpinan dan baru kemarin Sabtu (18/12) menutup liburannya dengan berwisata ke wisata danau Candi Kuning Bedugul. Kawasan wisata bedugul terletak di utara Kota Denpasar, berjarak kurang lebih 70 km, terletak di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan.

Walaupun hanya sampai bedugul, suasana kegembiraan pun tetap bersorak. Hawa dingin yang mungkin sampai 16 derajat celcius tidak membuat suasana menjadi dingin, namun menjadi panas, karena kami isi dengan memancing ikan di pinggir danau Beratan, panasnya karena tidak sabar menunggu ikan itu ditangkap. Di Bedugul terdapat sebuah pura yang berdiri di atas air danau yaitu Pura Ulun Danu yang merupakan tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Danu sebagai pemberi kesuburan menurut kepercayaan umat Hindu di Bali.

Sembari menunggu dengan sabar kail di makan ikan, kami pun isi dengan makan bakso (makanan favorit Presiden AS, Barack Obama), dan minum minuman hangat. Yang mungkin paling mengesankan dalam pribadi saya adalah bahwa saya telah lulus mengendarai mobil dari Denpasar sampai Bedugul dan sebaliknya yang jalurnya naik turun dan berbelok-belok, ini adalah pengalaman pertama saya (pengalaman nekat karena tanpa instruktur untuk membantu saya dalam mengendarai mobil ke bedugul).

Padahal saya sehari sebelumnya sempat berkeringat dingin karena belum sama sekali menyetir mobil sampai jauh ke Bedugul apalagi saya juga belum memiliki Sim A. Akhirnya dengan semangat juang 45 seperti para pemain Timnas Indonesia saat melawan Philiphina saya berhasil. Namun orang-orang yang ada dibangku mobil bagian belakang terkena getahnya karena saya yang baru pertama kali menyetir itu akhirnya pada muntah-muntah (mabuk darat). Kasihan deh  lu...

Recent Comments

Sabtu, 01 Januari 2011

Puisi "Selimut Hati"

Selimut Hati

Kuingin  malam ini menjadi malam terakhir
Aku merindukanmu

Esok fajar membuka hati                                               
Walau  berselimutkan masa lalu
Namun kumelipatnya menjadi rapi
Agar kembali indah saat dikenang

Mata hati yang selalu kujaga
Serasa baru kemarin dia ukir cinta di mata hati ini
Namun kabut membutakan mata hati
Untuk memilih tetap berselimutkan masa lalu

Dan
Ternyata  malam ini
Masih seperti malam sebelumnya
Aku  merindukanmu…..

Oleh: Ellshita Lisnawati Guntar


SASTRA DAN TRADISI



PUISI TOROK 
 SEBUAH TRADISI MASYARAKAT MANGGARAI FLORES-NTT

Sastra lisan merupakan bagian dari kebudayaan yang telah hidup dan berkembang dalam masyarakat sejak dahulu kala sampai sekarang. Sastra lisan penting untuk diperhatikan yaitu agar dapat diselamatkan dari pengaruh pergeseran akibat kemajuan teknologi zaman ini. Jenis-jenis sastra lisan yaitu prosa lisan seperti cerita rakyat (folklore) bersifat dongeng seperti mitos; legenda; fable; dan balada, puisi lisan berupa nyanyian; pribahasa;  syair-syair doa; dan mantra, dan drama lisan.
Masyarakat Manggarai selain mengenal prosa lisan seperti Ata Buta agu Ata Peko (Si Buta dan Si Lumpuh); Si Lanur dan Timung Te’e; dan Tombo Ema Agu Anak (Cerita Bapak dan Anaknya) juga mengenal puisi lisan  berupa syair-syair  doa (torok).
Torok merupakan puisi lisan yang melukiskan tradisi kolektif tertentu dari salah satu tradisi yang ada di Manggarai dan merupakan sebuah warisan leluhur yang sering digunakan dalam  upacara adat, agama, dan  pemerintahan. Torok adalah ungkapan doa dan harapan Masyarakat untuk kesejahteraan dan sebagai aturan pola bertingkah laku dalam bermasyarakat
Puisi torok disampaikan dalam bentuk ucapan yang lantang oleh ata torok (penyeru) pada saat pelaksanaan upacara adat seperti permohonan atau harapan untuk kedamaian masyarakat, upacara agama seperti ucapan syukur kepada Mori kraeng (Tuhan) atas rahmat dan berkat yang diterima oleh masyarakat, dan upacara pemerintahan biasanya ucapan terima kasih kepada pemerintah yang telah menyempatkan diri hadir dalam acara pemerintahan. 
Struktur torok berbentuk bebas yaitu dalam bentuk bertutur oleh ata torok  (penyeru), tidak terikat pada baris dan persajakan. Namun, torok memiliki irama dan rima sesuai dengan jeda pengucapan pada saat disampaikan oleh ata torok  (penyeru) dalam bentuk bertutur nyaring. Dengan demikian, torok berstruktur puisi naratif lisan.
Masyarakat tradisional  Manggarai tidak hanya hidup dalam konteks adat saja, tetapi juga terikat dalam kehidupan keagamaan dan sistem pemerintahan Kabupaten Manggarai. Puisi torok digolongkan ke dalam tiga upacara besar di Manggarai yaitu dalam upacara adat seperti torok cear cumpe (doa pemberian nama anak); torok libur kilo penti weki peso beo (doa syukuran Tahun baru untuk sekeluarga dan sekampung); torok we’e mbaru (doa pemberkatan rumah baru), dalam upacara agama seperti torok pemberkatan Gereja; tahbisan imam baru; perarakan patung Bunda Maria dan Sakramen Mahakudus; serta berbagai acara Gereja lainnya, dan dalam upacara pemerintah seperti pelantikan Bupati; kunjungan para pembesar pemerintah; pembangunan gedung utama; pesta kenegaraan seperti Hari Proklamasi 17 Agustus dan lain-lain.
Teuuw dalam bukunya Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan menyatakan bahwa ada hubungan langsung antara kelisanan dalam kebudayaan tradisional dengan rasa kolektifitasnya. Dalam masyarakat semacam ini tukang cerita memiliki peran yang mahapenting sebab dalam cerita yang ia pentaskan tersimpan informasi dan sistem nilai yang relevan untuk masyarakat bersangkutan. Seperti yang diungkapkan oleh Teuuw tentang hubungan antara kelisanan dan rasa kolektif tersebut maka dalam penuturan puisi torok, ata torok memiliki peran yang sangat penting yaitu sebagai perantara masyarakat (audiens) dengan Mori (Tuhan) dan Empo (para leluhur) dalam mengungkapkan sejumlah harapan dan doa untuk kesejahteraan baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat.
Makna puisi torok yaitu memancarkan seperangkat norma dan nilai sosial budaya yang dianut kelompok tutur Manggarai dalam menghadapi realitas kehidupannya. Torok merupakan salah satu bentuk puisi yang unik karena memiliki fungsi khusus yaitu untuk menyampaikan pesan dan amanat bagi masyarakat pendengar umumnya.
          Kenali dan lestarikan tradisi Manggarai sebagai penunjuk jati diri yang dapat mengungkapkan berbagai nilai keindahan, kemanusiaan, moral, adat, dan pendidikan sehingga mampu dipertahankan dari gilasan roda zaman.

oleh: 
Elsye Guntar

Elsye Guntar

Senin, 27 Desember 2010

Hari Ini, Pilkada Jembrana



Negara, Jembrana - Coblosan Pilkada Jembrana yang digelar serentak hari ini di semua TPS tersebar di Kabupaten Jembrana, Senin (27/12) mendapat perhatian khusus dari KPU pusat. Secara khusus Ketua KPU, Hafidz Anshari bersama anggotanya, IGP Artha terjun ke Jembrana. Bahkan mereka berdua sejak tadi malam sudah berada di ‘Bumi Makepung’. Bukan hanya mereka berdua, jajaran KPU Bali juga ikut terjun ke Jembrana hari ini. Bahkan, jajaran KPU kabupaten/kota se-Bali tidak ketinggalan ikut terjun. Kedatangan mereka guna melakukan pemantauan di pilkada yang belakangan tensinya memanas ini. 

Hafidz didampingi Anggota KPU Bali, Dewa Raka sandi, Ketua KPU Jembrana, Putu Wahyu Dhiantara saat ditemui awak media di Hotel Jimbarwana, Minggu (26/12) sore mengatakan, kedatangan pihaknya guna melakukan pengecekan pelaksanaan pilkada. Tujuanya guna mengetahui apakah pelaksanaannya sesuai aturan atau tidak. “Kita juga ingin memantau apakah ada kendala yang dihadapi petugas KPU,” terangnya. 

Dengan memantau langsung coblosan pilkada hari ini juga guna mengetahui apakah Kesbang Linmas sudah berperan cukup baik atau tidak. Pola pemantauan yang akan dilakukan pihaknya di TPS dengan cara acak. Hal ini guna mengetahui apakah di TPS tertentu digelar kesenian guna menarik perhatian masyarakat, khususnya pemilih untuk menyalurkan hak suaranya. “Karena di daerah lain ada TPS yang menyelenggarakan kesenian dan undian,” terangnya. Hafiz juga berharap Pilkada Jembrana berjalan aman, lancar, dan damai. Untuk itu Hafidz minta kepada petugas agar menghindari keberpihakan. Sedangkan terkait banyaknya laporan pelanggaran pilkada, itu merupakan kewenangan Panwaslu yang menanganinya. 

Dibagian lain menjelang H-1 coblosan, Minggu (26/12) masih ada masyarakat yang sudah memenuhi syarat seperti usia tidak mendapatkan surat panggilan untuk mencoblos. Selain itu juga pemilih yang TPS nya justru relatif jauh dari rumahnya. Padahal tidak jauh dari rumah pemilih ini ada sejumlah TPS. Bahkan ada juga bocah SD mendapat surat panggilan untuk mencoblos. Setidaknya semua persoalan ini terjadi di wilayah Kelurahan Loloan Timur. (dzar)

Hari Ini Pilkada Jembrana Ada Pembagian Amplop dan Beras

KPU JEMBRANA BALI


Negara (Bali Post) - Pada H-2 dan H-1 jelang waktu pencoblosan di sejumlah desa dibombardir amplop berisi uang dan beras yang diduga dilakukan tim sukses salah satu kandidat. Hingga Minggu (26/12) sore kemarin, Panwaslu Jembrana mendapatkan enam laporan dan di antaranya menjurus ke praktik money politics (politik uang).

Menurut informasi kasus pembagian amplop bergambar salah satu kandidat dan berisi uang Rp 100 ribu itu terjadi di Lingkungan Awen dan Lingkungan Ketapang, Kelurahan Lelateng.

Menurut informasi, amplop tersebut dibagikan oleh tim sukses kandidat tertentu dan di amplop itupun tertera gambar pasangan calon tersebut. Kebetulan salah seorang yang mendapat bagian adalah korlap salah satu pasangan dan langsung melaporkan ke Panwaslu.

Hal serupa juga terjadi di Dusun Tegalasih, Batuagung namun nilainya hanya Rp 10 ribu, pada Sabtu (25/12) malam telah dilaporkan ke Panwaslu. Sedangkan pembagian beras dengan embel-embel salah satu pasangan juga dilakukan di Dusun Air Anakan dan Desa Manistutu.

Ketua Panwaslu Jembrana I Wayan Wasa dikonfirmasi kemarin membenarkan adanya laporan praktik politik uang itu. Panwas telah menerima enam laporan yang dilaporkan Sabtu lalu di antaranya pembagian beras di Air Anakan di rumah klian dusun setempat, Hamzah. Kedua, pukul dua dinihari kemarin di Banjar Wali, Yehembang dan laporan penyebaran pamplet bernuansa SARA menyudutkan kandidat lain. Serta politik uang di Tegalasih, Batuagung yang dilaporkan oleh Wayan Sudarsana.

Salah satu warga, Surti, mengaku mendapat uang Rp 10 ribu dari tim sukses salah satu kandidat. Sementara laporan Minggu kemarin di antaranya pembagian amplop isi uang Rp 100 ribu di dua Lingkungan Kelurahan Lelateng serta pembagian beras di Manistutu. Beras terbungkus plastik transparan dengan logo partai Golkar. Ketua Panwas Wayan Wasa menandaskan Panwaslu masih memiliki waktu hingga 14 hari setelah laporan untuk menyikapi dugaan pelanggaran pilkada itu. Pihaknya masih melakukan proses klarifikasi terhadap saksi, terlapor dan pelapor untuk kesimpulan secara tuntas. ''Kita belum dapat simpulkan siapa di belakang ini apakah pasangan ini atau itu. Termasuk menyimpulkan ini money politics atau bukan yang jelas kita sikapi lakukan proses klarifikasi. Beberapa di antaranya belum kita klarifikasi karena dilaporkan malam,'' ujarnya.


SARA
Selain itu Panwaslu fokus tupoksi pengawasan yang lebih penting yakni pada pencoblosan hari ini. Masih ada 14 hari setelah dilaporkan untuk memeriksa. Kita fokus pada tupoksi pengawasan besok, tambahnya. Khusus terkait dengan selebaran SARA pihaknya meminta kepada masyarakat jangan sampai terprovokasi oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Tokoh agama hendaknya memberikan pencerahan umatnya masing-masing untuk bijaksana menyikapi masalah ini dan pilkada berjalan dengan baik. ''Anggap saja pamplet itu sampah yang tidak berguna. Masyarakat jangan terprovokasi ulah orang yang tidak bertanggung jawab,'' tegasnya. Sejumlah barang bukti di antaranya tiga karung beras, uang Rp 100 ribuan sebanyak Rp 2 juta dan Rp 10 ribuan dua lembar, amplop bergambar kandidat serta satu bungkus beras bergambar parpol Golkar diamankan di kantor Panwaslu. (kmb26)

Sumber : Bali Post

Minggu, 19 Desember 2010

Kebijakan Publik Yang Memberdayakan Anak Muda?

Ada banyak ragam dan jenis kebijakan yang kita sering dengar dan popular di telinga kita sebagai bangsa yang mendengar dan melupakan(amnesia) karena bukan bangsa yang gemar membaca sehingga sering kali berbeda apa yang disampaikan dengan apa yang dilaksanakan. Pemerintah pura-pura tidak ingat dan rakyat memang benar benar dalam keadaan lupa-lupa ingat. Artinya kebijakan pemerintah daerah atau pusat misalnya kebijakan pro rakyat, kebijakan pro-poor, ada gender budgeting, ada partisipatory budgeting yang kita mengenal semenjak reformasi mulai ditabuh tapi apa hendak dikata semua kebijakan dan rencana itu masih mengidap penyakit yang saya sebut “munafik policy” sebab terdapat kesenjangan yang luar biasa antara tulisan dan perbuatan, antara perkataan dan pelaksanaan. Tapi apa mau dikata pula, membincang kebijakan public adalah membincang diri kita dan tentang kita. Jika tidak kita yang membicarakan, merasani, dan mengkritik sampai kapan kita menjadi korban kebijakan? Menjadi obyek pelengkap penderita dari jargon-jargon kampanye calon bupati, gubernur, presiden yang menampakkan diri sebagai para pembela orang miskin dan tertindas.

Setelah mencoba membaca berbagai model kebijakan yang selama ini di berbagai daerah ternyata ada satu kesimpulan yang cukup menggelisahkan bahwa penulis benar-benar belum menemukan kebijakan publik yang mempunyai arah dan orientasi yang jelas bagaimana kebijakan dan program serta anggaran pemerintah dialokasikan untuk mempersiapkan calon pemimpin daerah, generasi yang akan datang untuk memperbaiki keadaan yang bernama ana-anak dan pemuda. Oleh karena itu penulis coba memberikan deskripsi bagaimana kebijakan pro-anak, pelajar, dan remaja didesain dan apa orientasi yang termaktub didalamnya. Hal ini penting sekali difikirkan, karena apa? Setidaknya ada lima hal penting mengapa kebijakan pro anak dan pemuda ini harus disiapkan semenjak dini.

Pertama, mereka (anak dan pemuda) adalah aset termahal, calon pemimpin daerah dan bahkan calon pemimpin bangsa. Jika tidak digodog sejak sekarang maka akan menjadi kader bangsa yang sekualitas dengan mie instan yang kata soekarno hanya bermental tempe atau kata Amien Rais hanya bermental inlander yang memandang diri, daerah, dan bangsanya lebih rendah dari bangsa lain. Mentalitas harus dibentuk, karakter kepemimpinan yang kuat bisa diciptakan dengan bekal kedisiplinan dan tentu dengan support dari pemerintah setempat yang merupakan sumber penganggaran. Sudah saatnya ada alokasi untuk melakukan empowering anak-anak dan pemuda terutama dari kalangan keluarga miskin yang seringkali sulit meraih pendidikan dan menaikkan taraf hidup keluarganya.

Kedua, mereka (anak dan pemuda) membutuhkan support yang besar. Jika kita ingin menghasilkan pemimpin pemuda yang handal tentu dengan kerja keras. Banyak pula potensi anak dan pemuda dari keluarga miskin yang perlu di upgrade agar kemampuan kepemimpinan lebih mantab, tidak minder dan percaya diri. Seandainya 10 persen anggaran pemerintah untuk mendirikan sekolah calon pemimpin di daerah untuk anak-anak muda baik yang miskin atau susah diberikan kesempatan untuk bermimpi menjadi pemimpin yang bernurani dan lebih memahami bagaimana memperjuangkan komunitasnya yang miskin dan termiskinkan tersebut. Inilah yang disebut dengan pemberdayaan dan penguatan kapasitas masyarakat melalui upaya meningkatkan skill kepemimpinan di kalangan anak muda. Selama ini betapa memprihatinkan bahwa anak-anak dan pemuda tidak pernah dilibatkan dalam membuat kebijakan publik baik di level pemerintah daerah, kecamatan, kelurahan dan RT atau RW. Anak muda dianggap bukanlah sesuatu yang penting di setiap lini kehidupan terlebih di daerah-daerah yang mengalami gerontokrasi, kepemimpinan orang tua yang tidak produktif dan tidak kreatif. Tapi pemuda tidak mampu berbuat banyak karena kelemahan di sana-sini, terutama masalah ekonomi keluarga yang tidak pernah hengkang dari garis kemiskinan.

Ketiga, Jika mereka (anak dan pemuda) kuat, maka daerah dan bangsa juga akan kuat. Memang ironisnya, seringkali anak muda tidak dianggap, diremehkan dan bahkan masa depannya dirampas oleh generasi tua yang merasa benar dan mau menang sendiri. Ini sangat berbahaya apabila terlambat disadari bahwa upaya memperkuat pemerintah terus dilakukan dengan anggaran yang besarnya selangit, upaya pemberantasan korupsi dan teroris begitu menggemparkan dunia ‘persilatan’. Tapi adakah upaya melatih anak dan pemuda menjadi manusia yang berkarakter, bermental kuat dan tidak inlander? Sangat sedikit sekali. Ibaratnya, bangsa ini membangun rumah, diperkuat atapnya sampai setebal dan seberat bumi tapi tanpa fondasi yang kuat sebab penulis berpendapat fondasi yang sebenarnya adalah anak-anak dan pemuda yang kini masa depannya “dikebiri” dan mimpinya terus saja dirampas. Penggundulan hutan, perusakan ekosistem, korupsi, dan pembangunan yang kapitalistik adalah menifestasi perampasan masa depan anak dan pemuda. Dan sekaligus ini memberikan kesimpulan yang kuat bahwa kebijakan pemerintah sangat pragmatis, tidak visioner, tidak memikirkan anak cucu yang akan datang.

Dzar Al Banna
Sastra Indonesia, Universitas Udayana

Akibat Hujan Semalam, Bedugul Longsor

Longsor menutupi sebagian jalan utama Denpasar - Singaraja


Tabanan – Kemarin (17/12) Hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Kota Denpasar begitu juga di Kabupaten Tabanan mengakibatkan longsor di obyek wisata Candi Kuning Bedugul, Kecamatan Baturiti, Sabtu siang (18/12).

Menurut informasi dari Kasatlantas Polres Tabanan AKP I Made Punia, Sekitar pukul 23.00 Wita terjadi longsor kecil di dekat Patung Jagung Bedugul. Akibat hujan deras sejak pagi hingga siang, ujar Punia, tebing di sekitar Patung Jagung tergerus sehingga mengakibatkan tanah-tanah di sekitarnya longsor dan menimbun sebagian badan jalan.

Longsoran tanah tebing itu sempat mengganggu arus lalu lintas di obyek wisata andalan di Kabupaten Tabanan tersebut sehingga menutup satu lajur jalan sebelah barat. Kendaraan roda dua dan empat yang hendak pergi ke arah Singaraja ataupun Denpasar berjalan tersendat karena dilakukannya akses buka tutup lajur. Namun aktivitas pariwisata di kawasan bedugul tetap berjalan seperti biasa, pengunjung pun diharap tetap berhati-hati saat melewati kawasan wisata bedugul ini, dikarenakan sepanjang jalur ini sangat rawan longsor.

Sabtu sore, tumpukan tanah longsor tersebut telah dibersihkan, atas kerja sama pihak kepolisian resor Tabanan, Dinas Pekerjaan Umum, dan warga sekitar dengan menggunakan alat seadanya. “Sebenarnya kami telah menunggu alat berat dari Denpasar, namun sampai pukul 14.30 Wita tak kunjung tiba, akhirnya kami lakukan dengan alat seadanya” ujar Punia.

Bedugul Oh Bedugul


Saatnya Mancing Mania
Tabanan - Akhir liburan Galungan dan Kuningan di Bali sungguh sangat menggembirakan. Setelah diawal liburan Galungan kemarin adik-adik saya di PD Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Denpasar mengadakan pelatihan kepemimpinan dan baru kemarin Sabtu (18/12) menutup liburannya dengan berwisata ke wisata danau Candi Kuning Bedugul. Kawasan wisata bedugul terletak di utara Kota Denpasar, berjarak kurang lebih 70 km, terletak di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan.

Walaupun hanya sampai bedugul, suasana kegembiraan pun tetap bersorak. Hawa dingin yang mungkin sampai 16 derajat celcius tidak membuat suasana menjadi dingin, namun menjadi panas, karena kami isi dengan memancing ikan di pinggir danau Beratan, panasnya karena tidak sabar menunggu ikan itu ditangkap. Di Bedugul terdapat sebuah pura yang berdiri di atas air danau yaitu Pura Ulun Danu yang merupakan tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Danu sebagai pemberi kesuburan menurut kepercayaan umat Hindu di Bali.

Sembari menunggu dengan sabar kail di makan ikan, kami pun isi dengan makan bakso (makanan favorit Presiden AS, Barack Obama), dan minum minuman hangat. Yang mungkin paling mengesankan dalam pribadi saya adalah bahwa saya telah lulus mengendarai mobil dari Denpasar sampai Bedugul dan sebaliknya yang jalurnya naik turun dan berbelok-belok, ini adalah pengalaman pertama saya (pengalaman nekat karena tanpa instruktur untuk membantu saya dalam mengendarai mobil ke bedugul).

Padahal saya sehari sebelumnya sempat berkeringat dingin karena belum sama sekali menyetir mobil sampai jauh ke Bedugul apalagi saya juga belum memiliki Sim A. Akhirnya dengan semangat juang 45 seperti para pemain Timnas Indonesia saat melawan Philiphina saya berhasil. Namun orang-orang yang ada dibangku mobil bagian belakang terkena getahnya karena saya yang baru pertama kali menyetir itu akhirnya pada muntah-muntah (mabuk darat). Kasihan deh  lu...